Mungkin Besok Giliranku

Kematian,  mungkin itulah alasan pertama yang membuatku ingin kembali melakukan pembenahan sikap dan tindakanku. Bukan hanya didalam rumah melainkan juga dalam aktivitas kesehariannku. Bertahap, konsisten dan mulai dari hal yang termudah tentunya.

Masih ku ingat semasa nenekku sakit, masih terbayang hari-hari terakhir bersamanya, dan masih dapat  kurasakan sesak dadaku menahan tangis saat kurebahkan tubuh kaku nenek didasar pusara, saat kusentuhkan ujung ibujari kakinya ke tanah, saat itulah hatiku bergetar, saat itulah nurani suciku berkata, “mungkin besok atau lusa adalah giliranku!”. Lalu sebuah pertanyaan tiba-tiba memenuhi ruang fikiranku “Seberapa gagahkah aku dihadapan Tuhanku? Sudah siapkah aku MATI hari ini?”

Detak jantungku terasa semakin kencang setiap ku ingat pertanyaan itu. Pandangan menggelap, sukma serasa melayang setiap kali kubayangkan kematianku. ya,,,,mengingat kematian tak pernah ku tahu kapan giliranku, dan aku tak pernah tahu berapa lama jatahku untuk bisa menikmati kesegaran bernafas dibumi ini.

Takut mati!, bisa jadi perasaan itu juga telah membuatku berfikir untuk segera lakukan perbaikan demi perbaikan diri, segera bertobat, segera bersiap setiap saat untuk menerima kematian.

Perbaikan diri, itulah yang mulai kulakukan. dan sholat bejamaah adalah statement pertama yang kubenahi sebagai awal dari proses perbaikan diri. Perbaikan sikap dan tindakan yang harus benar-benar ku koreksi dan ku tata kembali, sebagai upaya mengislamkan diri sendiri. Agar islamku tak hanya dalam lisan dan tindakanku saja melainkan juga beserta segenap fikiran dan hatiku.

Miris sekali jika mengingat kelakuanku dulu, yang sering sekali dengan  sengaja mengabaikan  bahkan meninggalkan sholat, atau ngeles dengan beraneka rasa dan alasan, untuk mennghalalkan segala cara padahal sebenarnya males sholat apalagi ke mesjid. Alasan sibuk ini itulah, gak sempetlah, kerjaan nanggunglah, menjadi alasan paforitku sehari-hari.

Ah…begitu hinanya aku, mengaku beragama islam tapi malah menginjak-nginjak keislamanku sendiri. Begitu kotornya hatiku yang sering berargumen miring dan merendahkan mereka yang berjuang memakmurkan mesjid. Begitu piciknya pikiranku yang menganggap para penggiat Islam hanyalah sebagai orang-orang yang sok suci. Begitu bodohnya aku, yang tak pandai gunakan waktu untuk mendekati sang pemilik hidup. Begitu sombongnya fikiranku yang menganggap bahwa tingkahlaku yang kubuat tak pernah merugikan agamaku.

Sekaranglah, saat inilah harus kumulai semua perbaikan itu, sebab esok mungkin aku sudah Mati !.

“Ya..Rabb, izinkan aku tetap berada didekat-Mu, dan limpahkanlah ilmu-Mu agar menjadi petunjuk dalam setiap langkahku”. (Aamiin)

___oOo___

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s