Egoku

Cahanya keemasan terpatul dari genting-genting berdebu atap rumah tetangaku. Merambat  pelan penuhi  ruang  lensa mataku. Tawarkan satu  kedamaian  pada  jiwaku yang tengah bimbang  tentukan pilihan yang akan kuambil. Secangkir kopi yang kuseduh dan lambaian dau-daun tanaman suplir diteras rumah ikut menjadi saksi  kegundahan fikiranku sore ini.

Bebas finansial, ya…itu dia impian yang kerap memenuhi setiap sudut ruang cita-citaku, yang selalu menjadi topik bahasan fikiranku mulai dari bangun tidur hingga menjelang tidur lagi, yang menjadi tema cerita kesuksesan hidupku yang tak kunjung terselesaikan menjadi sebuah buku kisah sukses.

Biaya untuk pemenuhan kebutuhan hidup kerap menjadi alasan egoku untuk bersikeras  mengarahkan segenap pikiran dan langkahku menuju kesana, ke titik dimana aku bisa merasakan bahagianya menjadi seorang dermawan yang dengan leluasa dapat merealisasikan naluri kedermawannya, tanpa harus berpikir ribuan kali untuk mengeluarkan jariyah,infaq dan sedekahnya.

Sadar atau tidak, diakui atau tidak, sedikit atau banyak , hidup dengan penghasilan yang tidak mencukupi membuatku banyak melewatkan berbagai hal yang seharusnya aku bisa berbuat baik disana, membuatku banyak kehilangan kesempatan bisnis yang sebenarnya mampu kujalankan.

Ahh…ya, mungkin itu hanya alasan egoku saja, sebab banyak para pembijak  mengatakan sifat kedermawanan tak harus direalisasikan dalam bentuk materi, banyak penasehat mengajarkan materi tidak menjadi tolak ukur sebuah kebahagiaan, dan para pujangga pun menimpali dalam syair – syairnya sedekah ter baik adalah do’a.

Lalu egoku pun kembali menyuarakan apresiasinya, kata-kata mereka hanyalah pereda hati dari kepedihan hidup yang semakin meradang, nasehat-nasehat mereka hanyalah makan untuk penenang jiwa yang sedang meronta, dan kalimat-kalimat mereka adalah syair – syair pennyejuk hati dari rasa ketidakberdayaan.

Tak bisa kupungkiri aku pun merasakan kenikmatan dari kalimat-kalimat sakti mereka. Tak bisa kulsangkal nasehat-nasehat itu begitu menentramkanku seakan segala tuntutan kebutuhan hidup telah tertunaikan. Dan syair-syair indah pelena jiwa telah menina bobokan ambisi cita-citaku yang sedang bergelora. Begitu nikmat, begitu tenang, begitu tentram berada dalam balutan ayat-ayat sakti mereka.

Dan pada saat kembali pada realita yang terjadi dalam keseharian, tuntutan materi dalam kehidupan tak bisa terlunaskan hanya dengan ayat – ayat sakti mereka.

Selamat berjuang sobat….Salam Sukses!

___oOo___

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s