Jika Kau Gammer Sejati

“Om, mau ke warnet gak ?” sapaan pagi yang kerap pertama kali ia lontarkan sambil dengan tangannya membuka paksa mataku yang masih tertutup ngantuk. Dan jika tidak kujawab pertanyaannya , ia akan menindih tubuhku, meniup kupingku, menutup hidungku sampai aku kesulitan nafas dan akhirnya terbangun.
“Ah…dasar ponakan yang gila game, lagi enak-enaknya mimpi malah dibangunin! “ gerutu hatiku sambil akhirnya terpaksa bangun dan lepaskan selimut kesayangan yang sebenarnya masih enggan kulepas.

Usianya barulah lima tahun, tapi hobinya maen game melebihi hobiku memainkan coreldraw dan photoshop. Sepertinya tak ada hari tanpa maen game buat keponakanku yang satu ini, dari mulai playstation, PC game apalagi yang namanya game online.

Ya, bukan salanya kalau sekarang ia tak bisa lepas dari game. Aku dan om-om lainnya(adik-adiku) juga berperan dalam menjejali fikiran dan imajinasinya dengan beragam permainan game. Sejak usianya 2 tahun, aku sering mengajaknya bermain-main didepan komputer, membiarkan tangannya menyentuh dan memainkan mouse atau tombol  apapun yang ada pada keyboard. Dan ia akan terlihat sangat gembira sekali bila tombol yang ia mainkan ternyata memunculkan gambar di monitor, ia akan tertawa kegirangan saat tombol  keyboard yang ia tekan membuat gambar dimonitor  berpindah kegambar lainnya. Lalu ia akan mengulanginya dan tertawa lagi. Dan aku pun ikut merasa bahagia melihat kegembiraannya.

Mungkin itulah awal kesalahanku, mengenalkan sesuatu sebelum waktunya. Hingga akhirnya  membuat ia sekarang menjadi penggila game. Rasa hausnya terhadap game mengalahkan minatnya berlama-lama tinggal dikelas dan lingkungan sekolah TK nya sekarang. Ia akan lebih kerasan nonkrong didepan komputer  timbang berlama-lama menyimak ibunya yang mengajarkan ia iqro, bacaan-bacaan do’a,buku belajar membaca , hitung-hitungan,mewarnai ,dan sejenisnya. Ia malah lebih hafal bagaimana awal menyalakan dan mematikan computer, lebih mengerti dengan ejaan loading,play, quit, winn, lose, resume, setting, option , done,next, back dan entah ejaan apa lagi yang ada pada game. Bahkan ia akan tau apa yang harus dilakukan jika saat memainkan game komputernya mendadak ngehang.

Pernah satu waktu ku coba mengadakan sebuah riset,  seberapa lama kekuatan fisiknya berinteraksi dengan permainannya. Jam tujuh pagi ku ajak ia ke warnet. Sebelumnya sebungkus nasi kuning telah ia habiskan sebagai syarat yang selalu ku ajukan padanya bila ia ingin ikut main diwarnet. Dua pc susu cair UHT cokelat ,sebungkus t*ngo wafer dan beberapa snack favoritnya ku kuhidangkan untuk cemilannya. Tepat jam 8 pagi ia pun memulai hobinya, memulai petualangan dalam game-game pilihannya. Terlihat khusu , serius menikmati level demi level permainan yang ia menangkan. Dan aku pun mulai dengan kesibukanku sendiri berkelana didunia maya.

Beberapa jam kemudian, suara adzan dhuhur  pun terdengar. Ku tengok ia yang masih khusu dengan permainannya. Sementara hidangan cemilan yang kusediakan nampak tak disentuhnya sama sekali. Selepas sholat dhuhur  kutawari ia mie bakso yang juga makanan kegemarannya tapi menolak. Lalu akupun kembali pada kesibukanku sendiri sambil sesekali mengamati  aktivitasnya bermain game.

Adzan ashar seakan cepat sekali datang, berkumandang melalui corong-corong pengeras suara pada atap-atap mesjid. Kuhitung jam berawal dari angka delapan hingga jarum pendek jam di dinding menunjuk angka tiga . Tujuh jam lima menit sudah ponakanku bertualang dengan khusyu  dalam permainan game-game pilihannya. Tanpa beranjak dari tempat duduknya sedari semula, tanpa sedikitpun menyentuh sedikitpun cemilan yang kuhidangkan didepannya.
Tujuh jam lima menit, mata beningnya berinteraksi tanpa henti dengan radiasi cahaya monitor , Tujuh jam lima menit tangannya mungilnya menari diatas tombol keyboard tanpa merasa lelah, Tujuh jam lima menit  tak setetes pun air minum masuk basahi tenggorokanmu. Tidakkah kau merasa haus??….Betapa kuat fisikmu, hey ponakanku…! tapi bukan kekuatan untuk itu yang kuinginkan ada padamu.
Betapa cepatnya kau memahami setiap level demi level game yang kau mainkan… betapa tekun dan sabarnya kau  meneliti dan memanfaatkan setiap peluang kemenangan yang ada dalam permainan game mu.

Hey,  Akhdan ponakanku..! Jika memang kau gammer sejati….
Kelak dewasa nanti… kau pun harus bisa memaahami setiap level demi level kesulitan yang menhampiri dikehidupanmu. Meneliti dan memanfaatkan setiap peluang  dan kesempatan yang kau temui sebagai alat untuk menjadikan hidupmu lebih baik. Jangan mudah menyerah seperti saat kau mainkan gamemu. Bahkan jika kau mampu… Jangan hanya bisa menjadi seorang maniak game, tapi ciptakanlah sebuah game yang dapat dinikmati oleh generasimu yang akan datang.

Salam sukses buat sobat semua.

___oOo___

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s