Senja Yang Kusuka

Pagi usai, siang pun telah pergi membawa panasnya. Sesekali debu berterbangan besama angin yang terhempaskan kendaraan yang melaju dijalan depan rumahku.
Masih disini, dikursi teras yang kemarin, berteman segelas coffe instan  yang kubeli dengan sisa uang recehku pagi tadi, duduk sendiri seperti menunggu, ya menunggu! Menunggu sesuatu entahlah apa itu, mungkin hanya menunggu senja yang cerah ini beranjak pergi , hingga tiba saatnya malam mulai bentangkan remangnya selimuti atap langit yang keemasan.

Sepoi angin sedikit redakan letih, sesekali aku bertanya dalam hati haruskah mimpi ini berhenti ? tapi kenapa ? tak ada alasan yang dapat kujadikan sandaran. Lalu pada malam kucoba bertanya padaNya , adakah gembira tengah menungguku? tapi dimana ia sekarang? Biarlah kutemui ia, agar tawa ini tak menjadi redup lalu berganti perih. Tak ada penjelasan pasti , hanya senyum yang sepertinya enggan berkelanjutan yang dapat kitemui.

Kutatap kembali senja dengan keemasannya yang mulai redup. Kulihat pula satu persatu tanaman penghias peninggalan nenek dihalaman rumah yang tetap terdiam tak bergoyang. Senja ini masih seperti yang kemarin , tak kutemukan sesuatu yang dapat kutunggu, yang dapat kujadikan awal langkah tegap dan pasti. Mimpiku masih tergantung disana, pada untaian do’a-do’a malamku , pada lantunan bait – bait suci milikNya.

Senja semakin redup, pertanda awal perbincangan malamku denganNya segera dimulai.

_____oOo_____

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s