Pergilah Mimpi

Dua tahun sudah kulewati setelah ia meninggalkanku, sejujurnya aku telah merelakannya. Dan berharap ia menemukan kebahagiaan yang ia inginkan. Setiap hari aku selalu mencoba menyibukan diriku, menutun hati dan pikiranku untuk tetap fokus pada pekerjaan dan kehidupanku sekarang. Setiap hari aku selalu berkumpul dengan keluarga atau dengan teman-teman sepekerjaanku. Aku tak membiarkan diriku berada dalam kesendirian.

Begitupun saat waktu luang, aku isi dengan membaca artikel-artikel apa saja, dengan maksud agar fikiranku tidak melayang memikirkan dia. Sebab jika kubiarkan mengingatnya hatiku pasti bertanya “Kenapa…ini terjadi padaku, kenapa ia tega menghianati, Kenapa Tuhan…..kenapa kesungguhan yang kuberi malah ia sia-siakan ?” Huhh…capek rasanya kalo hatiku sudah bertanya-tanya seperti itu.

“Tuhan…demi kekuasaanmu aku tak menyalahkanMu, aku akan terima segala keadaan yang akan Kau beri padaku. Tapi aku mohon padaMU… mampukan aku, pikiran dan hatiku untuk tidak lagi mengingat dia. Aku tersiksa Tuhan…sakit! saat aku teringat dia. Tuhan… maaf, mungkin aku tak sesuci yang Kau anjurkan, mungkin aku tak setaqwa yang Kau perintahkan, namun apapun kondisiku saat ini…aku masih tetap menjadi hamba Mu, yang ingin menjalankan semua perintahMu, tanpa harus terganggu dengan perasaan-perasaan atau fikiran-fikiran tentang dia. Aku terganggu Tuhan…. Aku tersiksa! Tolong aku Tuhan… Tolonglah…”

Sahabat perasaan ini benar-benar nyata aku rasakan, kenapa aku selemah ini…? Telah banyak kata-kata motivasi atau kata bijak yang aku temui, dari hasil membaca atu dari nasehat-nasehat teman-temanku. Namun semua seakan hanya obat pereda saja bagiku.

Aku sering bermimpi tentang dia bahkan bisa kuhitung satu sampai dua kali dalam seminggu, dan Demi Tuhan! sama sekali aku tak berharap mimpi itu hadir. Dan pada saat tersadar dari mimpi aku merasa selalu terpuruk.

Sahabat, tadinya aku tak ingin menuliskan ini dalam postinganku, karena mungkin akan terkesan “Lebay” kalo kata anak sekarang , dan mungkin juga aku merasa jaim atau gengsi untuk mengatakannya. Namun seperti yang aku katakan , tadi malam aku tiba-tiba saja memimpikan dia lagi, aku sempat terbangun untuk ambil air wudlu dan sholat sunnat, Aku minta pada Tuhan agar aku dihindarkan dari mimpi tentang dia. Aku kembali tidur dan mimpi itu tetap saja hadir.

Hari ini samangatku sedikit terganggu, fikiranku selalu menyalahkan atas ketidak mampuanku melupakannya. Dan akhirnya aku coba tuliskan ini pada postinganku berharap ada sedikit lega dalam perasaanku. Entahlah padahal dulu aku tak secengeng ini, aku selalu bisa menyembunyikan perasaan tentang satu hal ini.

Semoga mimpi tentangnya tak pernah datang lagi.

Terima Kasih Sahabat… Salam Sukses .

10 thoughts on “Pergilah Mimpi

    • Yaah…begitulah Nov, kalo hati sedang bicara tak bisa ditutup-tutupi…yg saya rasakan sulit sekari untuk berpura-pura. Pura” tegar, Pura” kuat, Pura” gak peduli,dll…saya selalu gagal untuk berpura-pura.

  1. memang tidak mudah, tapi kelak waktu akan melupakan perasaan itu yang penting masa depan sudah menanti tak pantas rasanya kita meratapi masa yang sudah berlalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s