Kisah Cinta si Pramu Toko IV

Tiga hari masa cuti cukup membuat Dinda merasa lebih baik, aktifitaspun kembali di jalani sebagaimana mestinya.Sementara konflik dengan ayahnya masih saja menjadi duri dalam nubungannya dengan Raka.

Perasaan lelah manghadapi perlakuan dan sikap ayah Dinda sering ditemui, namun kekuatan cinta yang mereka miliki mampu menepiskannya. Raka sudah tidak bias lagi leluasa berkunjung ke rumah Dinda, karena memang ayah Dinda sudah benar-benar menolak kehadiran Raka dirumahnya.

Waktu terus dilalui, berkali-kali Raka dan Dinda menghadapi berbagai teror dari Ayah Dinda. Bahkan Ayah Dinda sempat melaporkan Raka kepada pihak berwajib dengan tuduhan penculikan, sampai Raka pun mau tak mau berurusan dengan kepilisian.

Tibalah suatu malam dimana Ayah Dinda benar-benar mengusir Dinda dari rumahnya, Dinda selalu teringat ucapan Ayahnya yang membuat hati Dinda merasa hancur “Jika kamu tetap ingin meneruskan hubungannmu denngan si Raka, silahkan angkat kaki dari rumah ini! dan jangan pernah lagi menganggap aku sebagai ayahmu!…SILAHKAN!! keluardari rumah ini… saat ini juga!!!” ucapan ayah Dinda saat mengusir dinda.

Air mata pun mengiringi langkah Dinda meninggalkan rumah dan ibu tercinta. Dinda pergi menuju rumah pamannya dengan membawa koper pakaian miliknya

Jam sebelas malam Raka mendapat kabar melalui telepon dari paman Dinda, ia memberitahukan tentang kondisi Dinda saat itu. Raka segera menuju rumah paman Dinda, ditemuinya Dinda sedang menangis dalam pelukan Bibi (istri paman). Beberapa orang kerabat Dinda pun berdatangan, mereka semua menyesalkan perlakuan ayah Dinda.

Setelah Dinda mulai merasa lebih tenang, perlahan paman memberikan beberapa pertanyaan kepada Dinda, atas keputusan Dinda meninggalkan rumah. Dan pada kesimpulannya Dinda tetap memilih untuk mempertahankan hubungannya dengan Raka.

Paman pun beralih memberikan pertanyaan kepada Raka atas pernyataan yang telah diutarakan Dinda tersebut. Kemudian Raka pun memberikan pernyataanya kepada paman dan kerabat  yang ada di rumah paman malam itu.

“Paman…kalau memang keputusan Dinda untuk menjadi istri saya sudah bulat, maka saya akan menikahi Dinda, dan saya harap keputusan Dinda tidak didasari karena kebencian atas perlakuan ayah Dinda atau hanya karena Dinda sedang mencintai saya. Saya harap Dinda berniat  karena untuk menjalankan ibadah kepada Allah SWT. Dan satu hal lagi, untuk yang terakhir kalinya, saya akan mencoba lagi malamar Dinda kepada ayah Dinda, sekalipun hasilnya nanti akan sia-sia saja…Saya mohon do’a  dan restu nya dari seluruh keluarga besar Dinda”

Malam itu juga Raka pulang ke rumahnya, esok harinya raka menbicarakan rencananya kepada kedua orang tua dan kaluarga , persiapan pun dilaksanakan. Termasuk memberitahukan kepada pihak keluarga Dainda  kepastian hari “H” nya.

Tibalah hari yang telah di rencanakan untuk melamar Dinda, acara pun dilaksanakan dengan segala kelengkapannya. Namun Ayah Dinda tetap pada pendiriannya ia tetap menolak lamaran yang sisampaikan keluarga Raka, Bahkan seorang Kiyai sebagai sesepuh dari keluarga Raka dan juga sebagai juru bicara dari keluarga Raka, malah mendapat caci maki dari Ayah dinda, ketegangan dan debat pun sempat terjadi dengan nada tinggi dan kasar pula keluarga Raka diusirnya, Akhirnya Keluarga Raka mengalah dan pulang dengan rasa kecewa.

Usaha Raka dan Dinda tak berhenti sapai disitu, mereka melakukan konsultasi dengan keluarga, dengan pihak yang menangani urusan perhikahan (KUA) juga kepada para tokoh agama yang mereka kenal. Lama mereka mempertimbangakan pendapat – pendapan dan saran-saran dari mereka. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menikah meski tanpa restu ayah Dinda. Semua keluarga mendukung niat baik Raka dan Dinda untuk menikah, dan mereka pun melangsungkan pernikahannya sementara yang menjadi walinya adalah kakak kandung Dinda sendiri.

Setelah mereka menikah terror dari ayah Dinda masih sering mereka hadapi. Berbagai cara yang dilakukan ayah Dinda agar kehidupan mereka tidak bahagia. Namun Raka dan Dinda berusaha melewatinya dengan penuh kesabaran.

***

Demikianlah Kisah Cinta si Pramu Toko, yang dapat saya rangkum dan saya tulis lagi pada blog ini. Banyak pelajaran yang dapat kita petik dari rangkaian cerita tersebut. Semoga sahabat pembaca juga bisa mengambil hikmahnya bukan sekedar menilai dengan rasa haru,sedih, menarik atau menyenangkan saja, sebab dari setiap cerita yang baik pasti terkandung berbagai pesan didalamnya.

Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s