Kisah Cinta si Pramu Toko III

Ini adalah lanjutan dari kisah Raka dan Dinda setelah mengalami tragedi kecelakaan.

Raka menjalani masa penyembuhan dirumahnya,saat itulah kali pertama Ayah Dinda berkunjung ke rumah dan bertemu dengan kedua orang tua Raka. Tak ada perbincangan yang istimewa antara Ayah Dinda dan kedua orang tua Raka hanya seputar perkembangan kesembuhan Raka.

Raka melihat ada sesuatu  yang  berubah pada sikap Ayah Dinda, kelihatannya ia kurang begitu nyaman berada di rumah Raka, bahkan sikapnya pada Raka jelas berubah. Entahlah Raka sendiri merasa heran tak seramah biasanya. Raka mengira munkin Ayah Dinda merasa kecewa atas kecelakaan yang menimpa Dinda anaknya. Berkali-kali Raka minta maaf atas kejadian tersebut.

Setelah sembuh Raka kembali beraktifitas seperti biasanya, melaksanakan rutinitasnya sebagai karyawan took. Begitupun hubungannya hubungannya dengan Dinda berjalan seperti biasa. Namun ada sedikit ganjalan dihati Raka yaitu tentang sikap Ayah Dinda yang drastis  berubah. Setiap kali Raka berkunjung kerumah Dinda, sikap Ayah Dinda begitu dingin bahkan sering menghindar seakan enggan bertemu dengan Raka. Kian hari perubahan sikap Ayah Dinda semakin jelas terlihat. Hal ini pun dirasakan oleh Dinda

Hingga pada suatu sore , selepas pergantian shift, Dinda mengatakan sesuatu hal penting kepada Raka,

“Aa,…tadi malam Ayah berbicara padaku tentang hubungan kita…” tutur Dinda. “Terus..?” kata Raka dengan serius mendengarkan penuturan Dinda.

“Ayah sudah berubah …Ayah tidak lagi merestui hubungan kita ‘A….Ayah mita kita putus!” jelas Dinda sambil terisak menangis dan tidak kuat meneruskan panjelasannya. Dinda terus menangis dan memeluk Raka, begitu terlihat rasa takut kehilangan pada diri mereka.

Seperti mendengar petir disiang hari, begitulah yang Raka rasakan mendengar penuturan Dinda tersebut,Kaget ,sedih dan gundah serta merta menyelimuti hati Raka. Namun ia tetap berusaha tenang dan mencoba meredakan tangis kesedihan. Lalu Raka mengambil segelas air minum dan memberikannya untuk Dinda.

Dinda  mulai berangsur tenang , isak tangis pun mulai reda, Raka mengusap air mata Dinda dan membelainya dengan lembut penuh kasih sayang.

“Dinda sayang…sabar yah…kita harus tenang menhadapi  semua kenyataan yang terjadi pada kita. Apa yang diinginkan Ayah pasti ada alasannya…pasti ada penyebabnya…” jelas Raka

“Iya ‘A….memang ada penyebabnya!” Dinda membenarkan perkataan Raka, lalu melanjutkan penjelasannya.

” Tempo hari setelah Ayah menjenguk ‘Aa…Ayah berkata ma Aku ,bahwa semula Ayah mengira kalau ‘Aa itu anak pemilik perusahaan ini, makanya ayah mengijinkan  hubungan kita . Terus selain itu saat Dinda sakit setelah kecelakaan itu, ada rekan kerja Ayah yg datang menjenguk, ia membawa serta anak laki-lakinya yang katanya calon seorang camat, entah apa yang mereka bicarakan, tiba-tiba saja Ayah menawar-nawari  aku  untuk menikah dengan anak rekan kerjanya itu…Aku sudah menolaknya bahkan Ibu.Paman dan saudara keluarga pun menyarankan agar Ayah tidak memaksakan keinginannya. Tapi ayah malah balik marah sama mereka, terutama pada Ibu, bahkan ibu sempat di tampar oleh Ayah karena membela Aku”

Raka mencoba memahami  penuturan Dinda, sampai akhirnya mengerti penyebab  perubahan sikap yang terjadi pada Ayah Dinda.

Dinda juga bilang kalau ia sempat beberapa kali kena tamparan Ayah karena menolak permintaannya. Sikap arogan Ayah semakin  menjadi, sampai-sampai keluarga besarnya pun dimusuhinya dan siapapun keluarga  yang membela Dinda dilarang masuk ke rumahnya.

Bukan Cuma itu Ayah Dinda mengancam kalau Dinda tidak menuruti keinginannya, ia akan menceraikan Ibu Dinda dan tidak akan menganggap lagi Dinda sebagai anaknya. Sungguh ancaman yang sangat menyulitkan bagi Dinda, membuat  hati Dinda semakin hancur dan berada pada dilemma. Ya… benar –benar dilemma bagi Dinda, Disatu sisi Dinda tidak ingin berpisah dengan Raka ,dan disatu sisi lagi Dinda juga tidak ingin melihat Ibunya tersiksa.

Begitu pun dengan Raka , melihat keadaan seperti ini Raka juga merasakan sebuah dilema yang begitu berat. Ia mencoba meminta pandangan dengan beberapa  orang untuk mencari solusinya. Ia meminta pendapat kepada Orangtuanya, Paman dan Uwaknya, beberapa Guru ngajinya, serta kepada paman dan saudara-saudara Dinda. Semuanya menyalahkan tindakan Ayah Dinda dan semuanya menyerahkan keputusan sepenuhnya ada pada Raka dan Dinda sendiri.

Bulan berlalu, konflik Dinda dengan Ayahnya tak kunjung reda dan sudah menjadi rahasia umum, bukan karena Dinda atau Raka yang sengaja menyebarluaskan berita konfliknya, melainkan karena tindakan- tindakan Ayah Dinda yang arogan, dan tak segan-segan memarahi,mencaci atau menghina Raka dan Dinda di depan umum, bahkan didalam toko saat banyak pengunjung sekalipun. Ia berani menampar atau menyeret Dinda saat sedang bertugas sebagai kasir.

Suatu hari sementara Raka sedang off bekerja dan sedang berada dirumahnya. Ayah Dinda datang ketoko menemui Dinda yang sedang  melayani para pembeli, tanpa menhiraukan orang-orang yang ada ditoko Ayah Dinda langsung memarahi Dinda, memaki, beberapa kali menampar Dinda dan membenturkan kepala Dinda ke rak penyimpanan barang. Orang – orang melerainya, beberapa orang diantara mereka memaki tidakan Ayah Dinda . Ayah Dinda pun pergi meninggalkan toko. Dinda menangis meratapi kenyataan yang terjadi, seorang kasir rekan Dinda menemani Dinda di ruang Kepala Toko sambil mengobati luka Dinda, pipi Dinda terluka kena goresan kuku tangan Ayahnya, kepalanya pusing karena kena benturan .

Seorang rekan mengabarkan kejadian ini kepada Raka, dan Raka pun menemui Dinda. Melihat kondisi Dinda , hati Raka sakit… perih sekali, Dinda terus menangis dalam pelukan Raka , tak kuasa Raka pun menitikan air mata . Namun ia tetap berusaha menenangkan hati Dinda  . Dua orang rekan kerja yang menyaksikan kejadian itu pun ikut terharu.

Raka memberitahukan kabar ini kepada Paman Dinda. Paman pun meminta Raka mengantarkan Dinda ke rumah paman. Raka juga mengajukan ijin cuti untuk Dinda kepada atasannya, dengan maksud supaya Dinda bisa  beristirahat untuk menenangkan pikirannya, sehingga konsentrasi bekerjanya tidak terganggu, dan pihak perusahaan pun mengijinkannya.

………………………>>> Kisah Cinta si Pramu Toko IV

***

3 thoughts on “Kisah Cinta si Pramu Toko III

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s